Selasa, 19 Juni 2012

pH TANAH pertanian


I.  PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Setiap tanaman memerlukan jumlah hara dalam komposisi yang berbeda-beda, pengetahuan pengaruh  pH Tanah terhadap pola ketersediaan hara tanah dapat di gunakan sebagai acuan dalam pemeliharaan tanaman yang sesuai dengan suatu jenis tanah, melalui berbagai penelitian, telah di ketahui bahwa tanaman tertentu mempunyai kisaran pH ideal yang tertentu pula.
pH tanah sanggat penting di karenakan larutan tanah mengandung unsur seperti nitrogen (N),kalium (K),pospor (P), dimana tanaman membutuhkan dalam jumlah tertentu untuk tumbuhan, berkembang  dan bertahan terhadap penyakit. pH tertentu yang berukuran pada tanah di tentukan oleh seperangkat faktor kimia tertentu, oleh karena itu, penentuan PH tanah adalah sebuah lini yang paling penting yang dapat di gunakan untuk mendiagnosa masalah pertumbuhan tanaman, biasanya tanah pada daerah basah bersifat masam dan pada daerah kering bersifat basah.
Nilai pH berkisar antara 0 – 14, makin tinggi kepekatan/ kosentrasi (H+) dalam tanah, makin rendah pH tanah dan sebaliknya, makin rendah konsentrasi (H+) maka makin tinggi PH tanah, sehubungan dengan nilai pH di jumpai tiga (tiga) kemungkinan yaitu : Masam, Netral, dan Basah.
Ketersediaan hara di dalam tanah mempunyai empat (4) pola yaitu :
1)      Pola rendah (R),Tinggi (T), Rendah (R), meliputi N,Ca,Mg,Mn,Cu dan Za, tetapi dengan kisaran nilai pH T yang berfariasi, ketersediaan N maksimum pada 6,0 - 8,0,Ca dan Mg pada pH 7,0 – 8,5, serta Mn, Cu, dan Za pada PH 5,0 – 6,5.
2)      Pola Rendah (R), Tinggi (T), terdiri dari K,S dan Mo, dengan kisaran maksimum untuk K dan S pada pH 6,0 ke atas  dan Mo pada pH 7,0 ke atas.
3)      Pola rendah (R), Tinggi (T) adalah Fe dengan ketersediaan maksimum padssa pH 6,0, ke bawah.
4)      Pola Rendah (R) Tinggi (T), R,T, meliputi P dan B, dengan ketersediaan maksimum di atas untuk keduanya adalah pada PH 8,7 ke atas tetapi pH ketersediaan maksimum bawah untuk P adalah 6,5 – 7,5, sedangkan B adalah 5,0 – 6,8.
pH optimum, untuk ketersediaan unsur hara tanah adalah sekitar 7,0 karena pada pH ini semua unsur  makro tersedia secara maksimum sedangkan unsur hara mikro tidak maksimum kecuali Mo, sehingga kemungkinan terjadinya toxsitas unsur mikro tertekan, pada pH di bawah 6,5 dapat terjadi Defesiensi P,Ca,dan Mg serta toxsitas B,Cu, Zu, dan Fe, sedangkan pada pH di atas 7,5 dapat terjadi defisiensi P,B,Fe,mA,Cu,Zu,Ca dan Mg juga keracunan B dan Mo.
Dari uraian di atas maka di pandang perlu untu melakukan pengamatan penetapan  pH tanah di Desa Akekolano Kecamatan Oba Utara Kota Tikep.
2. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pH tanah pada lapisan I, II,dan III, di Desa Akekolano Kec.Oba Utara,Kota Tidore Kepulauan.


II.TINJAUAN PUSTAKA
1. Faktor – Faktor Yang Mempenggaruhi pH Tanah
Air bersifat netral karena konsentrasi H+ dan OH-  yang sama pada keadaan netral pH adalah 7. Suatu ukuran skala pH digunakan untuk memudahkan dan meenyatakan SI+ yang sangat kecil didalam air maupun didalam berbagai sistem hayati penting, kation-kation yang dapat dipertukarkan terserap dengan tenaga yang cukup besar untuk memperlambat pencuciannya dari tanah, (Foth, 1994)
Pengukuran pH tanah dilapangan dengan prinsip kalori meter dengan menggunakan indicator (larutan, kertas lakmus), yang menunjukan warna tertentu pada pH berbeda (Mohr, 1972) kondisi pH tanah mempengaruhi serapan unsur hara dan peertumbuhan tanaman melalui pengaruhnya terhadap ketersedian unsur hara dan adanya unsur-unsur yang beracun. (Hanafiah, 1990)
Biasanya jika pH tanah semakin tinggi maka unsur hara semakin sulit diserap tanaman, demikian juga sebaliknya jika terlalu rendah akar juga akan kesulitan menyerap makanannya yang berada  didalam tanah. Akar tanaman akan mudah menyerap unsur hara atau pupuk yang kita yang kita berikan jika pH dalam tanahsedang-sedang saja cenderung netral. (Tan,1990).
Beberapa unsur hara fungsional seperti besi, mangan, dan seng berkurang apabila pH  digunakan dari 5,0 menjadi 7,5 atau 80 molidenium berkurang ketersediannya bila pH diturunkan pada pH kurang dari 5,0 besi dan mangan menjadi larut dalam jumlah cukup banyak sehingga dapat mengganggu serapan normal unsur lain dan sangat merugikan pertumbuhan tanaman (Hakim, 1986).
Reaksi tanah menunjukan sifat kemasaman atau alkalis tanah yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukan banyaknya konesntrasi ion hidrogen H+  didalm tanah, makin tinggi kadar ion H+ didalam tanah, maka semakin masam tanah tersebut. Pada tanah-tanah yang masam ion H+ lebih `tinggi dari pada OH- sedangkan pada tanah brsifat alkalis kandungaan ion OH- lebih tinggi pada ion H+. kemasam tanah terdapat pada daerah dengan curah hujan tinggi sedangkan pengaruhnya sangat besar padatanaman, seehingga kemasaman tanah harus diperhatikan karena merupakan sifat tanah yang sangat penting (Hakim, 1986)
Sifat kemasaman tanah ada dua jenis yaitu kemasaman aktif dan kemasaman potensial, kemasan aktif ialah yang diukurnya konsentrasi ion H+ yang terdapat pada pemakaian sehari-hari. Sedangkan reaksi tanah adalahh banyaknya kadar hydrogen dapat ditukar oleh kompleks koloid tanah (Hardjowigeno, 1987).


III. BAHAN DAN METODE
1. Tempat dan Waktu
Praktikum ini di laksnakan di Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Unversitas Khairun Ternate, pada Tanggal 21 Noveber 2011.Jam 14.00 WIT sampai selesai.
2. Alat Dan Bahan
Adapun Alat dan Bahan yang di gunakan dalam praktikum ini yaitu : kertas lakmus atau pH indikator, Gelas Ukur 100 dan 500 ml, Timbangan Analitik, Kertas, Alat Tulis Menulis, Kamera Digital, Cawan, Sampel Tanah Lapisan I, Sampel Tanah II, Sampel Tanah III dan Air
3. Metode Praktikum
Adapun metode yang dipakai dalam praktikum ini yaitu dengan menggunakan perbandingan 3 : 3 (3 gr tanah : 30 ml air ) metode lakmus.
4. Pelaksanan Praktikum
Adapun prosedur kerja dalam menggukur pH tanah anatara lain sebagai berikut:
  1. Siapkan sampel tanah dengan menghaluskan terlebih agar dapat terdekomposisi dengan air.
  2. Ambil sedikit sample tanah yang sudah dihaluskan dan air mineral dengan perbandingan 3 : 3 (3 gr Tanah : 30 ml Air).
  3. Masukkan tanah dan air ke dalam gelas ukur
  4. Aduk-aduk atau dikocok hingga benar-benar homogen (merata)
  5. Biarkan beberapa menit hingga campuran air dan tanah tadi memisah (tanahnya mengendap)
  6. Tuangkan kedalam cawan
  7. Setelah airnya terlihat agak jernih masukkan ujung kertas lakmus atau pH Indikator kedalam campuran tadi kemudian dikocok-kocok.
  8. Tunggu beberapa saat sampai kertas lakmus atau pH indikator berubah warnanya.
  9. Setelah warnanya stabil, cocokkan warna yang diperoleh oleh kertas lakmus atau pH indikator tadi dengan bagan warna petunjuknya.
  10. Hasil yang diamati kemudian ditulis didalam tabel dan selanjutnya dibahas.
5. Teknik Analisa Data
Teknik analisa data yang digunakan dalam praktikum ini yaitu dengan menggunakan teknik analisa deskriptif.


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil
Tabel. 1. Data pengamatan pH tanah pada tanah lapisan I, II dan III
No
Pengamatan
pH
Kriteria
1.
Lapisan I
6
Agak Masam
2.
Lapisan II
6
Agak Masam
3.
Lapisan III
7
Netral
         Sumber :Data Diolah Tahun 2011, Kutipan kriteria pH, (Hakim, 1983).

Gambar. 1. Grafik Pengamatan pH Tanah pada lapisan I, II dan III





2. Pembahasan
pH tanah atau tepatnya pH larutan tanah sangat penting karena larutan tanah mengandung unsur hara seperti nitrogen (N), kalium (K) dan fosfor (P), dimana tanaman membutuhkan dalam jumlah tertentu untuk tumbuh. Jika pH larutan tanah meningkat sehingga hingga diatas 5.5 maka nitrogen (dalam bentuk nitrat) menjadi tersedia bagi tanaman. Disisi lain pospor akan tersedia bagi tanaman pada pH antara 6 hingga 7 yang ada dalam tanah.
Dari pengamatan dilaboratorium, didapatkan hasil dimana pada tanah lapisan I dengan kriteria “sedikit masam” berbeda dengan tanah lapisan III yang kriterianya masuk dalam kategori “netral”, meskipun tidak berbeda dengan pH tanah pada tanah lapisan II. Hal ini dapat diasumsikan bahwa ketiga lapisan tanah tersebut dikategorikan sebagai tanah yang subur, hal ini dikarenakan adanya keseimbangan antara sifat kimia tanah dan sifat biologi tanah.
Rendahnya pada lapisan I dan II sama – sama memiliki kriteria agak masam dibandingkan dengan lapisan III yang disebabkan oleh:
1.      Terjadinya pencucian zat hara dari lapisan atas ke bawah sehingga zat hara yang terdapat pada lapisan I dan II ikut terabawa ke lapisan III.
2.      Sering terjadi pengolahan tanah yang pada akhirnya pada lapisan III banyak terakumulasi unusr hara.
3.      Lapisan I dan II adalah zona erakaran sehingga unsur hara sering terangkut bersama hasil panen tanaman.
Kondisi ketiga sampel tanah yang digunakan dalam uji leaboratori memiliki kandungan hara yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan pemampatan tumbuah dan tanaman yang tumbuh diatas sehingga terjadi proses pelapukan dan dekomposisi antara sisa – sisa tumbuhan dan tanaman yang menyebabkan kandungan humus tanah menikat dan sifat masam dan basah tanah menjadi setabil dengan kriteri sedikit masam untuk sampel tanah lapisan I, II dan kriteria netral untuk sampel tanah lapisan III.
Lebih diperjelas oleh Syarief (2008), bahwa jenis tanah pada kondisi ini memiliki kadar unsur hara yang tinggi, tetapi tergantung pada bahan induknya atau bahan pelapuknya, dimana reaksi tanah sangat mempengaruhi ketersediaan unsur hara bagi tanah dan juga tanaman.
Pada reaksi tanah yang netral yaitu pH tanahnya 7 maka unsur hara tersedia dalam jumlah yang banyak. pH tanah juga mempunyai pengaruh langsung atau tidak langsung pada tanaman. Menurut Sopardi (1979), ada tiga alasan utama nilai pH sangat penting untuk diketahui yaitu:
1.      Menentukan muda tidaknya ion-ion unsur hara yang desarap oleh tanaman, pada umumnya unsur hara yang diserap tanaman pada keadaan pH yang netral, karena pada pH tersebut sebagian besar unsur hara mudah larut didalam air.
2.      pH juga menunjukan keberadaan unsur-unsur yang bersifat racun bagi tanaman.
3.      pH tanah juga sangat mempengaruhi perkembangan mikro organisame dalam tanah pada pH 5.5 - 7.0 bakteri jamur pengurai organisme dapat berkembang dengan baik.


V.KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan.
Adapun kesimpulan berdasarkan hasil penggamatan dan pembahsan laporan praktikum ini, antara lain :
1.      pH tanah lapisan III, lebih tinggi dar lapisan ke I, II.
2.      pada lapisan III  yaitu 7 (Netral),untuk lapisan I,yaitu 6 (Agak Masam), sedangkan untuk lapisan ke II yaitu 6 (Agak Masam)
2. Saran.
Diharapkan agar praktikum tentang penetapan pH tanah dapat di buat dengan skala yang luas artianya untuk identifikasi jenis dan krakter tanah tidak hanya fokus pada satu titik saja sehingga kita dapat mengetahui secara keseluran karakterestik serta pH tanah pada satu daerah. Kemudian pengambilan sampel tanah yang dilakukan harus dibagi menjadi dua tempat, yang satu diambil ditempat degan vegaetasi tumbuhan yang banyak dan pengambilan sampel tanah yang kedua dilambil di tempat dengan vegetasi tumbuhan yang sedikit atau tidak ada sama sekalai sehingga mahasiswa dapat mengetahui perbedaan pH tanah yang dimiliki oleh tanah tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Foth , 1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanah, Erlangga Jakarta.
Hanafiah, A.K. 1990. Dasar –Dasar Ilmu Tanah.  Edisi 1 – 3 Jakarta Rajawali press.
Hardjowigeno . S. 1987. Dasar –Dasar Ilmu Tanah, Akademik,Presindo Jakarta.
Hakim, 1983. Pengapuaran Adalah Suatu Teknologi Tepat Guna Untuk Meningkatkan Produksi Panagn Di Pedesaan. Seminar IPTEK di semarang 24 – 28 Januari.
_______, dkk. 1986. dasar – dasar ILMU TANAH. Penerbit Universitas Lampung.
Soepardi G, 1979. Sifat Dan Ciri Tanah,saduran dari The Nature and Properties of soild, by Brandy, 1975.
Tan H. K 1990. Dasar – Dasar Kimia Tanah. Gaja Mada Universitas press Yogyakarta, Indonesia.



LAMPIRAN

1. Dokumentasi
Gambar 2. Sampel tanah lapisan I, II dan III

Gambar 3. Pengukuran sampel tanah (timbangan analitik)

Gambar 4. Gelas ukur

Gambar 5. Cawan petry

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar