Selasa, 19 Juni 2012

BIOLOGI TANAH

I. PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Cacing tanah merupakan hewan vetebrata yang hidup di tempat yang lembab dan tidak terkena matahari langsung.kelembaban ini penting untuk mempertahankan cadangan air dalam tubuhnya .kelembaban yang di kehendaki sekitar 60-90% selain tempat yang lembab, kondisi tanah juga mempengaruhi kehidupan cacing seperi pH tanah, temperatur, aerasi, CO2, bahan organik jenis tanah, dan suplai makanan.di antara ketuju faktor tersebut, pH dan bahan organik merupakan dua faktor yang sangat penting.kisaran pH yang optimal sekitar 6,5-8,5 adapun suhu ideal menurut beberapa hasil penelitian beberapa berkisar antara 21-30 derajat celcius.
Cacing yang dapat mempercepat proses pengemposan sebaiknya yang cepat perkembangan baik tahan hidup dalam limbah organik, dan tidak liar. Dari persyaratan tersebut, jenis cacing yang cocok yaitu, Lumbricus Rubellus, Elsenia Foetida, dan  Pheretime Asiatica. Cacing ini hidup dengan menguraikan bahan organik. Bahan organik ini menjadi bahan makanan bagi cacing. Untuk memberikan kelembaban pada media bahan organik, perlu di tambahkan kotoran ternak atau pupuk kandang. Selain memberikan kelembaban, pupuk kandang juga menambah karbonhidrat, terutama selulosa, dan merangsang kehadiran mikroba yang menjadi makanan cacing tanah.
Cacing tanah yang kadang-kadang sangat menjijikkan itu merupakan penghuni tanah pekarangan, tanah persawahan, tegalan, hutan dan tanah lainnya. Cacing tanah atau Megascolecidae (lumbricus terrsetis) termasuk familia Annelida (cacing yang bersegmen) meliputi  sekitar 6.000 species, merupakan pelapuk dan penghancur  bahan-bahan organis (sisa tanaman, binatang) yang bermanfaat dalam pembentukan tanah. Namun demikian banyak pula cacing yang menjadi  parasit atau parasit fakultatif.
Perkembangbiakan cacing  melalui telur-telurnya . sehubungan dengan ini dapat di jelaskan tentang  perkawinannya yang hanya cukup dengan saling menggeserkan clitellum masing-masing. Cacing selain berperan melapukkan dan menghancurkan bahan-bahan organis di dalam tanah, juga berperan dalam  menyuburkan tanah. Hal ini dapat di jelaskan sebagai berikut:
a.          Cacing akan memakan / menghisap apa saja yang ada di muka mulutnya, tanah, sisa tanaman/ binatang yang suda lapuk, bakteri, cendawan, namatoda yang saprophit ataupun parasitis, yang selanjutnya dicerna dan dikeluarkan sebagai kotoran;
b.         Biasanya cacing hidup dan bergerak (secara membuat lubang-lubang dengan dorongan tubuhnya) di dalam lapisan top soil, sehingga kotoran kotorannya dapat menyuburkan lapisan tersebut, karena kotoran cacing merupakan hasil pencernaan lapisan tersebut, karena kotoran cacing merupakan hasil pencernaan yang banyak mengandung berbagai hasil persenyawan kimiawi yang kompleks.
Dalam hal ini dapat dijelaskan bahwa sisa-sisa tanaman, mikro flora, mikrofauna yang mengandung zat protein, karbohidrat, lemak dan enzim-enzim diubahnya dalam perut cacing menjadi zat-zat mineral yang bermanfaat terkandug dalam kotoran-kotorannya yang biasanya ditempatkan di pintu lubang / lorong-lorongnya secara bertunpukan.
c.          Lubang- lubang yang dibuat cacing-cacing di dalam tanah yang kadang-kadang keluar dari batas lapisan top soil masuk ke dalam lapisan sub soil sejauh 2 sampai 3 meter sangat membantu masuknya air dan udara ke dalam tanah.
Khusus tentang kandungan bahan –bahan dalam kotoran cacing beberapa ahli antara lain menyatakan sebagai berikut :
Tabel 1. Analisa Kotoran Cacing
ZAT MINERAL
KOTORAN CACING
TANAH ASLINYA
Ph
FOSFAT
KALIUM
NITROGEN AMONIAK
CaO
NITROGEN TOTAL
BAHAN ORGANIS
6,7
53,9 ppm
294 ppm
49 ppm
2,37 %
0,151 %
1,52 %
6,4
37,3 ppm
193 ppm
33 ppm
1,95 %
0,054 %
1,20 %
Sumber: Hanafiah (2005)

Sedangkan  Stockli yang juga melaksanakan penelitian pada kotoran cacing, antara lain menyatakan sebagai berikut :
a.       pH atau reaksi pada kotoran cacing adalah lebih tinggi jika dibandingkan dengan pH tanah aslinya;
b.      kadar humus yang terkandung pada kotoran cacing adalah lebih tinggui daripada tanah aslinya;
c.       populasi mikroflora dalam kotoran cacing ternyata lebih meningkat

Dapat pula di jelaskan bahwa pembuatan lubang atau lorong- lorong dalam tanah oleh cacing sampai jauh kedalam tanah (2 sampai 3 atau 4 meter ) berarti cacing telah mengangkat bagian- bagian tanah dari lapisan sup soil paling bawah ke atas. Maka dengan kegiatannya ini bagian-bagian dari zat mineral (terutama kalium) akan ikut terangkat ke lapisan atas(top soil).jadi dapat memperkaya bahan – bahan mineral dalam tanah. Dari uraian di atas maka di pandang perlu untuk melakukan percobaan biologi tanah.

2. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini ialah untuk mengetahui tingkat dekomposisi bahan organik dengan menggunakan cacing sebagai katalisator selama 6 minggu.



II. TINJAUAN PUSTAKA

1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Biologi Tanah (Cacing Tanah)
Faktor-faktor ekologis yang mempengaruhi cacing tanah menurut Hanafiah (2003) meliputi :
a.      Kemasaman (pH) Tanah
Kemasaman tanah sangat mempengaruhi populasi dan aktifitas cacing sehingga menjadi faktor pembatas penyebaran dan spesiesnya. Umumnya cacing tanah tumbuh baik pada pH sekitar 7,0 namun L.terrestris dan A. caliginose dijumpai pada pH 5,2 – 5,4; beberapa spesies tropis genus megascolex hidup pada tanah masam ber pH 4,5 – 4,7 dan Bimastos lonnbergi pada pH 4,7 – 5,1 bahkan Dendrobaena Octaedra tanah pada pH dibawah 4,3 sehingga dianggap spesies yang tahan masam. Dilain pihak, Eiseinia foetida lebih menyukai pH 7,0 – 8,0 (Hanafiah, 2002)

Tabel 2. Beberapa karakter seleksi r dan seleksi K
Karakter
Seleksi r
Seleksi K
1.      Iklim
Bervariasi dan/atau tidak terprediksi, tidak pasti
Cukup konstan dan/atau terprediksi, lebih pasti
2.      Kematian
Sering akibat bencana alam (katastrofi)/tidak langsung, tidak tergantung kerapatan
Lebih langsung, tergantung pada populasi
3.      Ukuran populasi
Bervariasi dengan waktu tak seimbang biasanya jauh dibawah kapasitas tamping lingkungan, komunitas belum jenuh atau sebagian jenuh, secara ekologi vakum, rekolonisasi setiap tahun
Setiap tahun relative konstan, seimbang, pada atau mendekati kapasitas tampung lingkungan, komunitas jenuh, tidak perlu rekolonisasi tahunan
4.      Kompetisi antar/interspesies
Bervariasi, biasanya lemah
Biasanya kuat
5.      Kerapatan relative
Sering tidak memenuhi model tongkat patah Mc. Arthur.
Biasanya sesuai

Banyak bukti yang menunjukan bahwa pH kotoran tanah lebih netral ketimbang tanah habitatnya, yang terkait dengan adanya netralisasi asam oleh :
1.    Sekresi kelenjar kalsifera yang dikeluarkannya pada saat melintasi tanah.
2.    Sekresi dari usus dan ammonium, tetapi bagaimana mekanismenya belum jelas.
b.   Kelengasan Tanah
Sekitar 75 – 90% bobot cacing tanah hidup adalah air (Gran cit. Anas 1990) sehingga dehidrasi (pengeringan) merupakan hal yang sangat menentukan bagi cacing tanah. Secara alamiah, cacing akan bergerak ketempat yang lebih basah atau diam jika terjadi kekeringan tanah. Apabila tidak terhindar dari tanah kering, ia tetap dapat bertahan hidup meskipun banyak kehilangan air tubuhnya. Sebagian besar Lumbrisidae dapat hidup[ meski tubuhnya telah kehilangan hingga 50% air bahkan L. Terrestris hingga 70% dan A. Chlorotica hingga 75%.

Tabel 3. Pengaruh kelengasan tanah terhadap produksi kokon A. Chlorotica
Lokasi
Kelengasan (%)
Rerata jumlah kokon per 5 cacing
Bones Close
11,0
13,5
21,0
28,0
35,5
42,5

0,0
0,0
8,6
13,6
8,8
6,6
Westfield
1,6
24,5
33,0
42,0
50,0
0,0
0,6
8,4
9,4
3,0

Beberapa spesieslebih mampu berdaptasi terhadap kondisi kering, L terestris ternyata hidup sama baiknya pada plot tanpa dan dengan irigasi, ketimbang A. Caliginosa, dan A. Rosea yang tidak bertahan lama pada plot tanpa irigasi.

c.       Temperatur
Aktifitas, pertumbuhan, metabolism, respirasi dan reproduksi cacing tanah dipengaruhi perbedaan temperature sebagai berikut :
a.       Jumlah kokon produksi A Caliginosa dan beberapa spesies lumbridae lainya berlipat 4 kali pada temperature 6 – 16 oC.
b.      Penetasan kokon A. chlorotica hanya berlangsung 36 hari pda temperature 20 oC, lebih cepat ketimbang 49 hari pada 15 oC dan 112 hari pada 10 oC
c.       Priode dewasa lebih cepat,yaitu 13 minggu pada 18oC ketimbang 28-42 minggu pada ruang tanpa pemanasan dan 17-19 minggu pada 15oC; E foetida perlu 6,5 pada 28 oC ketimbang 9,5 minggu pada 18o C.
d.      Temperature permukaan tanah optimum untuk aktifitas cacing tanah di malam hari adalah 10,5o C,berselesih minimal 2o Cdi atas rumput dan ada hujan 4 hari sebelumnya.
e.       Limit atas temperature kematian cacing tanah selah terpapar 48 jam adalah 28o untuk L.terretris, 26o C untuk A.caliginosa 25o C untuk E foetida (50% mati pada 24,7o C) dan pheretima hupiensis (50%mati pada 24,9oC) serta 29,7o C untuk E. rosea (50%mati pada 26,3oC),dan 34-38,5oC untuk H.africanus.

Tempertur berpengaruh terhdap distribusi cacing dalam profil tanah,di England pada bulan januari dan februari ,waktu suhu sekitar 0oC kebanyakan cacing tanah berada pada kedelaman 7,5 cm dan waktu suhu 5oC bermigrasi ke kedalaman 10 cm. Pada kedelaman 10 cm ini spesies yang umumnya di jumpai adalah cacing bsear yang meliputi A.clorotica, A.caliginosa dan A.rosea, serta sedikit cacing kecil/ muda A.longa,A.nocturna dan L.terrestris sedangkan cacing dewasa dari ketiga spesies kemudian ini,yang relative berukuran lebih kecil,telah bermigrasi ke kedalaman 7,5 cm. Pada juni-oktober kebanyakan cacing tanah bermigrasi kedalaman lebih dari 7,5 cm dan sebaliknya pada November, desember dan april. Dua faktor yang mendorong migrasi cacing ke lapisan yang lebih dalam,yaitu:
a.       Permukaan tanah yang sangat dingin
b.      Sangat kering

d.      Aerasi dan CO2
Tekanan CO2 mempengaruhi distribusi cacing tanah meskipun distribusi spesies seperti E.eiseni dan D.octaedra pada beberapa tempat lebih di batasi oleh minimalnya tekanan oksigen yang terjadi pada musim-musim tertentu,tetapi penemuan Satchell ini rancu dengan beberrapa faktor seperti Ph,kelengasan tanah,jumlah bahan organic segar,penutupan tanah oleh tanaman,dan status mikroba.E eiseni ini terlihat berkorelasi dengan potensial reduksi oksidas. Pendapat ini juga terbantah oleh penemuan Boyton dan Rompton Bahwa tekanan O2 pada kedalaman tanah di bawah 150 cm selama 6 bulan / pertahun dan kedalaman 90 cm selama 11 minggu/tahun hanya kurang dari 10% dan ternyata ada beberapa spesies yang masih tetap hidup dalam waktu yang lama (Hanafiah,2003).
Namun di lain pihak, baru sedikit petunjuk yang membuktikan bahwa cacing tanah tidak pindah ke tempat lain sebagai respons terhadap perubahan konsentrasi CO2.E foetida tidak merspons meskipun konsentrasi CO2 naik 25%,limit konsentrasi CO2 dalam tanah biasanya antara 0,01 – 11,5% sedangkan cacing tanah hanya dapat hidup pada konsentrasi yang jauh lebih tinggi bahkan hingga 50% (Appelhof, 1980).
e.       Bahan Organik
Distribusi bahan organic dalam tanah berpengaruh terhadap cacing tanah,karena terkait dengan sumber nutrisinya sehingga pada tanah miskin bahan organic hanya sedikit jumlah cacing tanah yang di jumpai. Namun apabila,cacing tanah sedikit namun bahan organic segar banyak,pelapukannya akan terhambat,seperti terlihat Wales, Australia yang tanpa cacing tanah,akumulasi sisa rumput dapat setebal 4 cm,begitu cacing tanah diintroduksi akumulasi ini tidak lagi terjadi (Subba Rao, 1994).
Populsi cacing tanah segera terpacu apabila tanah diberi kotoran hewan,sebagaimana terlihat pada hasil-hasil percobaan (cit. Anas, 1990) yerlihat bahwa populasi cacing tanah yang di beri pupuk kadang dapat mencapai 3-15 kali lebih banyak ketimbang dalam tanah yang tidak diberi pupuk kandang (Subba Rao, 1994).
f.     Jenis Tanah
Hubungan jenis tanah dengan populasi dan spesies cacing tanah telah diteliti Guld.di Skotlandia. Populasi cacing tanah paling banyak dijumpai pada tanah lempung ringan, pasir ringan, dan lempung sedang, kemudian pada alluvial, liat, dan lempung berkerikil serta paling sedikit pada tanah gambut. Kemudian dari segi keragaman spesies, paling banyak terdapat pada tanah bertekstur pasir ringan, serta pada tanah lempung, liat, dan alluvial (Hanafiah, 2003).
g.      Suplai Pakan
Berdasarkan hasil-hasil penelitian, dalam menyuplai nutrisi atau pakan berupa sisa-sisa tanaman (serasah bagi cacing tanah perlu diperhatikan palatabilitas (derajat kesukaan) dedaunan tersebut.
a.       ada yang lebih menyukai serasah segar yang berkalsium tinggi, seperti L.rubellus (yang memiliki alat mekanik pengeksresi kalsium, sehingga berperan penting dalam perbaikan kejenuhan basa dan pH) dan ada yang menyukai serasah yang mulai melapuk, seperti A. caliginosa yang juga memakan miselia jamur.
b.      Umumnya lebih menyukai serasah berkarbohidrat-larut, gula dan berprotein tinggi, L. terrestris lebih menyukai serasah tanaman Alnus glutinosa yang berkadar N > 1.4% ketimbang serasah berkadar N < 1%.
c.       Umumnya paling tidak menmyukai serasah conivera seperti daun pinus jarum, cemara, larch, spruce, oak, dan beech, karena (a) bertanin pekat, (b) berpolifenol larut air atau berfenol polihidrik tinggi, beralkaloid pahit atau senyawa aromatic noxsions.
d.      Urutan palabilitas (kelebihsukaan) terhadap serasah adalah daun selada, kale, biet, elm, jagung, lime, birch, oak, dan beech.
e.       Inokulasi sel-sel bakteri ke daun meningkatkan konsumsi serasah, sedangkan penyemprotan pestisida kimiawi sebaliknya..  
2. Komponen Penyusun Tanah
Menurut  N.C Brandy(1974) dalam “The nature and properties off soil” bahwa tanah itu merupakan suatu tubuh alam atau gabungan tubuh yang dapat di anggap sebagai hasil alam bermatra tiga yang berupa paduan ataau pengrusakan dan pembusukan, yang dalam hal ini pelapukan dan pembusukan bahan-bahan organik adalah contoh-contoh proses perusakan, sedang pembentukan mineral baru seperti lempung tertentu serta lapisan-lapisan yang khusus merupakan prose-proses pembentukan. Gaya-gaya atau kegiatan-kegiatan tersebut menyebabkan bahan-bahan di alam membentuk tanah. Sifat-sifat khusus tanah sangat beraneka dari tempat ke tempat, seperti yang berkembang di iklim tropika dengan yang di iklim ugahari (dingin).

Tanah merupakan suatu sistem yang dalam suatu keseimbangan dinamis dengan lingkunganya(lingkungan hidup atau lingkungan lainnya). Tanah tersusun atas 5 komponen yaitu;
a.             partikel mineral, berupa fraksi organik, perombakan bahan-bahan batuan dan anorganik yang terdapat di permukaan bumi.
b.            Bahan organik yang berasal dari sisa-sisa tanaman dan binatang dan berbagai hasil kotoran;
c.              Air
d.            Udara tanah, dan
e.             Kehidupan jasad renik.

Perbedaan perbandingan komponen-komponen di atas akan menyebabkan adanya perbedaan antara tanah yang satu dengan tanah lainnya. Secara umum komposisi volume tanah bertektur lempung berdebu yang optimal bagi pertumbuhan tanaman. Menurut Brady, (1974)  ± 50% berupa ruang pori(udara dan mineral), sedang fasa dapat menduduki volume sekitar 45% bahan mineral 4% bahan organik. Pada kelembaban optimum bagi pertumbuhan maka 50% ruang pori itu akan terbagi atas 25% udara 25% air. Udara dan air dalam tanah itu keadaannya demikian goyang, perbandingannya menentukan keserasian pertumbuhan tanaman.



III. BAHAN DAN METODE


1. Tempat dan Waktu
Praktikum ini di laksanakan di laboratorium dasar Fakultas Pertanian Universitas Khairun Ternate, pada tanggal 14 November 2011. Dimana  waktu pelaksanaannya mulai dari pukul 14.00 sampai selesai.

2. Alat Dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang di gunakan dalam praktikum ini antara lain yaitu hand sprayer, wadah (baki), alat tulis menulis, kamera digital atau kamera HP, tanah, air, daun dadap, cacing tanah dan kotoran ayam

3. Metode Praktikum
Metode yang di gunakan dalam praktikum ini adalah metode pengamatan visual.

4. Pelaksanaan
            Adapun pelaksanaan yang dilakukan, yaitu :
1.      Pengumpulan dan penyiapan alat dan bahan
2.      Daun dadap dicabik-cabik menggunakan tangan hingga menjadi sekecil mungkin
3.      Setelah daun dadap dicabik-cabik, dilanjutkan dengan pengolahan tanah  dimana tanah yang diambil dihaluskan dan dipisahkan dari materi-materi lain selain tanah.
4.      Kemudian haluskan kotoran ayam yang tadinya dalam bentuk gumpaln besar menjadi gumpalan kecil.
5.      Masukan sampel tanah lapisan I, daun dadap, dan pupuk kedalam baki yang telah disiapkan.
6.      Pemberian cacing sebanyak sepuluh ekor kedalam baki yang berisi tanah, daun dadap, dan kotoran ayam.
7.      Dilanjutkan dengan pemberian sampel tanah lapisan II dan III, diikuti dengan penyemprotan air menggunakan hand sprayer
8.      Setelah itu, masukkan daun dadap dan kotoran ayam lalu disemprot kembali dengan air.
9.      Selanjutnya wadah yang telah terisi bahan-bahan tersebut di biarkan sambil diamati dan melakukan penyemprotan air setiap hari  dengan rentan waktu selama 3 minggu.

5. Metode Analisa Data
Metode analisa data yang digunakan adalah dengan teknik deskriptif.



IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil
Dari hasil prktikum di Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Khairun Ternate diperoleh hasil antara lain sebagai berikut:
Tabel 4. Data Pengamatan Cacing
No.
Sampel
Ju/mlah Cacing
Jumlah Cascing
Waktu
1
Kelompok I
2 minggu
2
Kelompok II
3 minggu
3
Kelompok III
4 minggu
4
Kelompok IV
5 minggu
5
Kelompok V
7
6 minggu
Sumber: data diolah 2011
Tabel 5. Data Pengamatan Biokimia
No.
Sampel
Gas H2S
Gas NH3
Waktu
1
Kelompok I
Ö
2 minggu
2
Kelompok II
Ö
3 minggu
3
Kelompok III
Ö
4 minggu
4
Kelompok IV
Ö
5 minggu
5
Kelompok V
Ö
6 minggu
Sumber: data diolah 2011
Tabel 6. Data Pengamatan Kematangan Bahan Organik
No.
Sampel
Warna
Tekstur
Kadar Air
Waktu
1
Kelompok I
Coklat Kehitaman
Sedang
Lembab
2 minggu
2
Kelompok II
Coklat Kehitaman
Halus
Kering
3 minggu
3
Kelompok III
Hitam Kecoklatan
Halus
Lembab
4 minggu
4
Kelompok IV
Coklat Kehitaman
Kasar
Kering
5 minggu
5
Kelompok V
Coklat Kehitaman
Halus
Kering
6 minggu
Sumber: data diolah 2011
Keterangan sampel yang di gunakan:
1.      Sampel kelompok I yaitu daun petai cina, kotoran kuda, kotoran ayam, 10 ekor cacing tanah dan sampel tanah lapisan I, II, III.
2.      Sampel kelompok II yaitu daun lantoro, 10 ekor cacing tanah dan sampel tanah lapisan I, II, III.
3.      Sampel kelompok III yaitu daun dadap, kotoran ayam, 10 ekor cacing tanah dan sampel tanah lapisan I, II, III.
4.      Sampel kelompok IV yaitu daun trambesi, kotoran kambing, 10 ekor cacing tanah dan sampel tanah lapisan I, II, III.
5.      Sampel kelompok V yaitu daun lantoro, kotoran sapi, 10 ekor cacing tanah dan sampel tanah lapisan I, II, III.

2. Pembahasan
Dari praktikum dilaboratoium diperoleh hasil bahwa dari setiap minggunya proses transformasi bahan organik makro menjadi mikro yang di jadikan sebagai media tempat hidup cacing percobaan ternyata bebeda - beda. Hal ini disebabkan oleh lamanya waktu yang disediakan dan kondisi lingkungan dalam proses dekomposisi, semakin lama waktu yang disedikan maka semakin matang bahan organiknya. Perbedaan kematangan bahan organik dapat dilihat pada tabel 5 dan tabel 6.
Ciri – ciri bahan organik matang anatara lain: tidak berbau, berwarna coklat kehitaman atau hitam kecoklatan, kadar air dibawah 30% dan tekstur halus. Akan tetapi hasil yang didapatkan bahwa adanya gas yang dihasilkan oleh bahan organik yang terdapat didalam wadah atau baki. Gas – gas tersebut antara lain gas H2S dan gas NH3. gas yang dihasilkan setiap sampel pun berbeda – beda seperti yang di paparkan pada tabel 5, perbedaan itu muncul karena kadar air yang dimiliki masing – masing sampel. Kadar dapat stabil apabila penyiraman dilakuan dengan teratur akan tetapi pada setiap sampel tidak diberi air dengan merata sehingga bahan orgnik pada sampel kelompok II, IV dan V sedangkan pada sampel  kelompok I dan III diberi air dalam jumlah yang cukup sehingga proses transformasi dan dekomposisi dapat berlangsung dengan baik dan bahan organik pun matang dengan cukup sempurna.
Dari perbedaan kematangan bahan organik yang dijadikan sebagi tempat hidup cacing tanah maka ketersedian makan dan kelembaban pun ikut berpengaruh terhadap bertahan hidup atau tidak pada cacing tersebut. Hasil yang diperoleh pada pengamatan di laboratorium menujukan bahwa dari 50 ekor cacing dari keseluruhan sampel setiap kelompok atau 10 ekor cacing untuk masing – masing wadah  atau baki setiap kelompok ternyata tidak dapat bertahan hidup atau menyesuaikan diri dengan lingkuan yang disediakan di dalam wadah atau baki sampai pada proses pengambilan data.
Ada faktor yang sangat mempengaruhi sehingga dari keleuruhan cacing yang berada didalam wadah atau baki tidak dapat bertahan hidup antara lain proses penyiraman yang kurang stabil sehingga membuat media menjadi kering sehingga cacing pun menjadi stres karena kekuranga air dan pada akhirnya cacing itu pun mati. Akan tetapi tidak semuanya morfologi cacing itu terurai habis, masih ada 7 ekor cacing pada sampel kelompok V yang morfologinya tetap utuh akan tetapi dalam kondisi sudah tidak bernyawa lagi. Ini menandakan bahwa 7 ekor cacing yang menjadi sampel penilitian itu pada saat di masukan dalam wadah atau baki dalam kondisi sehat atau tidak cacat.
Dari uraian ini dijelaskan bahwa media yang disediakan tidak dapat memberikan kontribusi untuk proses biologi tanah dalam menjamin hidup cacing didalam wadah atau baki dan dipengaruhi oleh perawatan yang diberkan pada saat proses dekomposisi dan transformasi berlangsung.
Menurut Soepardi, (1979) faktor – faktor yang mempengaruhi bahan organik tanah adalah kedalaman tanah, iklim, dan drainase. Kedalam lapisan menentukan kadar bahan organik dan N, kadar bahan organik terbanyak ditemukan dilapisan atas setebal 20 cm (15% – 20 %), makin kebawah makin berkurang. Hal itu disebabkan akumulasi bahan organik memang terkonsentrasi dilapisan atas. Faktor ikilm yang berpengaruh adalah suhu dan curah hujan. Makin kedaerah dingin kadar bahan organik dan N makin tinggi. Pada kondisi yang sama kadar bahan organik dan N bertambah dua hingga tiga kali tipa suhu tahunan rata – rata 10oC. Bila kelembapan efektif meningkat kadar bahan organik dan n juga bertambah.  Hal itu menjukan suatu hambatan kegiatan organisme tanah. Darinase buruk, dimana air berlebih oksidasi terhambat karena airase buruk menyebabkan kadar bahan organik dan N tinggi daripada tanah berdainase baik.
Output pelapukan kotoran hewan dan bahan hijau ialah menghasilkan bahan kompos. Didalam kompos mengandung bahan humus. Menurut Kononora, (1966) humus adalah senyawa kompeleks yang agag resisten pelapukan, berwarna coklat, amorfus, bersifat koloidal dan berasal dari jaringan tumbuhan atau binatang yang telah dimodefikasikan atau disintesikan oleh berbagai jasad mikro.



V. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan
 Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil dan pembahasan tentang proses biologi tanah antara lain sebagai berikut:
1.      Jumlah keseluruhan cacing yang dipakai ternyata tidak bisa bertahan hidup akan tetapi ada 7 ekor cacing yang masih dalam keadaan utuh walupun dalam kondisi tidak hidup lagi.
2.      Dari bahan organik yang digunakan menghasilkan gas H2S dan NH3.
3.      Dari hasil pengamatan kematangan bahan organik dengan warna coklat kehitaman, hitam kecoklatan. Memiliki tekstur sedang, halus dan kasar. Sedangkan kadar air lembab dan kering.
2. Saran
Dari kesimpulan diatas maka dapat kami sarankan jika nanti pada praktikum biologi tanah berikutnya sebagainya menggunakan organisme lain untuk  mendekomposisikan bahan organik dan wadah yang cukup besar sehingga organisme yang melakukan dekomposisi lebih leluasa dalam menyesuakian diri.




DAFTAR PUSTAKA


Anas, I. 1990. Biologi Tanah. IPB Press. Bogor

Appelhof, M. 1980, “Pengomposan Dengan Cacing Tanah Pada Skala Kecil”. dalam Anas (1990)

Buckman dan Brady. 1974. Ilmu Tanah. Bhratara Karya Aksara. Jakarta.
Hanafiah, K.A2002. Biologi Tanah. Rajawali Pers. Jakarta

_______.2003. Biologi Tanah: Sebagi Pengantar ke Bioteknologi Tanah. Ilmu Tanah FP Unsir, Indralaya, Sumsel.

_______. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Persada Raja Grafindo Press. Jakarta.

Kononora, M.M. 1966. Soil Organic Mater, Ist Nature Ist Role In Soil Formstion and In Soil Fertility,Translated by T. Z. Novakowski and A. C. D. Newman, Pergamon Press, Oxford.

Rachman, A. I. 2010. Penuntun Praktikum di Laboratorium & Pedoman Pengamatan Tanah di Lapangan. Faperta Unkhair. Ternate.

Soepardi, G.1979. Sifat dan Ciri Tanah, Sandura dari Nature and Properties of soils, oleh N.C. Brady, 1975
Sutedjo dan Kartasapoetra, (2005), Pengantar Ilmu Tanah, Rineka Cipta, Jakarta.
Subba Rao, N.S. 1994. Mikroorganisme dan Pertumbuhan Tanaman. Edisi kedua (Terjemahan). UlPress. 353 hal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar